Untung atau Malang?

Di sebuah dusun miskin, tingallah seorang petani bersama istri dan satu anak laki-lakinya yang sudah beranjak dewasa. Menurut ukuran status sosial di desa, keluarga petani itu termasuk keluarga kaya karena rumahnya besar, kebunnya luas, dan sawahnya bertebaran di sekitar desanya. Petani itu juga memiliki seekor kuda betina.

Pada suatu hari kuda petani itu raib. Tak seorang pun tahu bagaimana kuda itu dapat lepas dan kemana larinya, atau siapa yang melepaskan dan kemana membawanya. Mendengar peristiwa yang menimpa petani itu, tetangga-tetangga berdatangan ke rumahnya untuk ikut bersimpati atas peristiwa yang menimpanya.
“Sungguh malang” bisik para tetangga.
“Malang?” kata petani. “Mungkin!”

Beberapa hari kemudian, tanpa ada orang yang mencari dan menuntun pulang, kuda itu kembali sendiri ke rumah, malah membawa serta dua kuda jantan liar. Para tetangganya berlarian ke rumah petani itu untuk melihat kuda-kuda itu.
“Wah, untung sekali” celetuk para tetangga.
“Untung?” jawab petani itu. “Mungkin!”

Keesokan harinya, terdorong oleh nafsu berpetualangnya, anak laki-lakinya mengambil satu dari dua kuda liar itu untuk dijinakkan. Namun, ketika anak itu menempatkan pantatnya di punggung kuda, seketika itu juga kuda itu menggelepar, menungging-nunggingkan kepalanya, dan mengangkat-angkat pinggulnya, lalu lari seperti kesetanan. Anak itu terpental dari kuda, melayang di udara, lalu jatuh terbanting di tanah dengan kedua kaki terlebih dahulu menyentuh tanah. Karena jatuh di tanah yang keras, patahlah satu kaki anak itu.

Mendengar berita musibah itu, para tetangga berduyun-duyun menuju ke rumah petani untuk ikut bersedih atas musibah yang menimpa anaknya. Mereka melihat anak itu terbaring di tempat tidur dengan kaki terbebat dan terus-menerus mengerang-ngerang kesakitan.
“Sungguh malang” kata para tetangga, “satu-satunya anak laki-laki jatuh dan patah kaki!”
“Malang?” jawab petani itu. “Mungkin!”

Beberapa bulan kemudian datanglah utusan raja ke desa dengan perintah untuk mencari pemuda-pemuda guna direkrut menjadi serdadu dan dikirim ke medan perang di negeri seberang. Dari desa itu, utusan raja berhasil mendapatkan sejumlah pemuda. Tetapi ketika tiba di rumah
petani, utusan raja tidak memilih anak laki-laki itu untuk direkrutnya karena kakinya pincang akibat jatuh dari punggung kuda.

Pada waktu para tetangga, terutama yang anak-anak laki-laki mereka dibawa ke medan perang di negeri seberang, mereka datang ke rumah petani.
“Untung sekali kamu” kata mereka, “anakmu tidak dikirim ke medan perang.”
“Untung?” jawab petani itu. “Mungkin!”

Sewaktu menghadapi peristiwa penting di dalam hidup, sebaiknya tidak cepat-cepat menjatuhkan penilaian. Biarlah waktu ikut menunjukkan maknanya.

[from: Konferensi tikus2 series – 27, Agus M.H. ]

untuk versi english, klik link di bawah ini:

http://ww2.yuwie.com/blog/entry.asp?id=358284&eid=190819

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: